← Kembali ke Berita

OTFA 2 (Day 1): Dari Alam Kita Belajar, Dari Tantangan Kita Tumbuh

OTFA 2 (Day 1): Dari Alam Kita Belajar, Dari Tantangan Kita Tumbuh

Pernahkah terbayang anak-anak usia 9-10 tahun harus membangun 'rumah' mereka sendiri, memasak makanan mereka sendiri, dan tidur beralaskan tanah?

Itulah yang terjadi di Tanjung Panorama. Siswa kelas 3 dan 4 Sekolah Alam Purwakarta tidak sedang liburan santai. Mereka sedang menempuh misi OTFA (Out Tracking Fun Adventure) ke-2. Sebuah misi untuk meruntuhkan kata "Manja" dan menggantinya dengan "Mandiri".

Membangun Rumah Sendiri (Tenda)

Tantangan pertama langsung menyambut begitu tiba di lokasi. Tidak ada hotel, tidak ada kamar siap pakai. "Ini rumah kita malam ini," ujar salah satu siswa sambil memegang pasak tenda.

Di sinilah drama kecil terjadi—ada yang bingung memegang tali, ada yang berdebat cara mendirikan tiang. Namun, perlahan ego itu runtuh berganti kerja sama. Saat tenda berdiri tegak, wajah lelah mereka berubah menjadi senyum bangga. "Setiap tenda menjadi simbol kemandirian dan kebersamaan kelompok," sebuah pelajaran mahal yang tak ada di buku paket sekolah.

Mental Baja ala Brimob

Keseruan (dan ketegangan) meningkat drastis saat pelatih dari Brimob mengambil alih lapangan. Suara tegas instruktur memecah udara.

Teman-teman digembleng latihan PBB (Peraturan Baris Berbaris). Bukan sekadar baris-berbaris, ini adalah latihan fokus, mendengar instruksi, dan menekan rasa lelah. Dari sikap sempurna hingga hormat, mereka belajar bahwa disiplin adalah kunci kekuatan.

Drama & Tawa di Dapur Alam (Jungle Cooking)

Bagian paling "kacau" tapi paling seru? Tentu saja Jungle Cooking. Bayangkan anak-anak yang biasa terima makanan jadi di meja makan, kini harus mengupas, memotong, dan memasak di alam terbuka dengan peralatan seadanya.

Ada tawa saat sayuran terjatuh, ada kepanikan kecil saat api sulit menyala. Tapi, rasa bangga ketika masakan itu matang dan dimakan bersama teman satu regu... rasanya lebih nikmat dari restoran mewah manapun!

Sujud di Keheningan Malam

Hari ditutup dengan cara yang sangat indah. Di tengah gelap dan dinginnya malam Tanjung Panorama, siswa dibangunkan untuk Shalat Tahajud berjamaah. Momen ini mengajarkan bahwa setangguh apapun kita di lapangan, hati harus tetap tunduk dan dekat kepada Allah SWT.

Malam itu mereka tidur nyenyak dalam pelukan alam. Namun, mereka sudah menantikan... tantangan air yang dalam dan ketinggian yang mendebarkan sudah bersiap menyambut esok hari.

Penasaran dengan aksi mereka canoeing dan flying fox?
Lanjut baca ke PART 2 →

Baca Juga Kegiatan Lainnya