Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter

Pagi ini aku dan mama diberikan kesempatan buat sharing di sebuah forum bertajuk “Seminar Gerakan Teknologi Ramah Anak” yang diselenggarakan oleh IGI (Ikatan Guru Indonesia) dan dihadiri oleh para Kepala Sekolah di Sumatera Utara. Mama seperti biasa membahas ttg dunia pendidikan dan keluarga. Sebagai guest star (gaya banget 😆), aku lebih banyak bercerita ttg hubunganku dengan gadjet.Dimana ‘sahabatku’ ini telah berjasa banget menemani proses belajarku untuk berkarya dan berpetualang ke banyak negara.Namun, di saat sesi sharing selesai, ada satu celetukan seorang guru yg membuatku tergelitik. Kira2 begini bunyinya:

  "Kalau anak-anak sudah bisa belajar lewat HP, internet. Jadinya Guru sudah gak dibutuhkan lagi dong."

Eits! It’s not the point! 
Istilah “Pembelajar mandiri” yang sering aku sampaikan jelas bukan untuk mengabaikan posisi seorang guru. Tapi justru menguatkan rasa hormat terhadap guru. Kadang ketika orang tahu kalau aku itu Homeschooling, ada anggapan aku itu anak yang bermasalah, gak mau belajar lah, gak hormat dengan guru lah, dan sebagainya. Seakan-akan membenarkan perkataan Joker,

"Anak Homeschooler itu adalah anak yang tersakiti di sekolah formal."

(Eh kayaknya gak gitu deh 🤔) Padahal, orang tuaku selalu ngajarin,

 "Jadilah pembelajar mandiri, yang mampu belajar dimana saja, dengan siapa saja."

Karena faktanya, walaupun aku memilih gak sekolah formal dan sering belajar sendiri dengan buku dan bimbel online. Aku tetap ‘diwajibkan‘ untuk ‘mendatangi‘ guru-guru dimanapun mereka berada.
Diantaranya:
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Aku pernah dibimbing menulis bersama Bu Sofie Beatrix hampir sebulan di rumah beliau di Surabaya. Waktu mau berangkat presentasi ke Amerika, aku sempat lama di karantina di rumah Kek Jamil Azzaini, belajar public speaking dan ngikutin aktivitas beliau kemana-mana. Belajar bikin boardgame itu ribetnya bukan main. Bersyukur aku pernah mendapatkan secercah ilmu dari boardgame designer dunia asal Indonesia, Om Eko Nugroho. Dan berhasil menciptakan “Tuntungan Ground Board Game” yang telah di presentasikan di forum internasional. Kini aku lagi mendalami bidang sejarah dan pemikiran Islam, Alhamdulillah aku akan menjadi mahasiswa seorang Cendekiawan Muslim Nasional, Ustad Adian Husaini. Tentu itu hanya beberapa nama, belum lagi para guru hebat yang aku ajak ngobrol di rumah atau kantornya, yang aku ikutin seminar dan kelas onlinenya. Masih banyak. Jadi intinya, guruku masih manusia, bukan hp. Andai aku hanya mengandalkan buku dan teknologi buat belajar. Gak akan mungkin aku tahu cara berkomunikasi dan bersopan-santun terhadap guru. Gak akan mungkin aku paham ttg perjuangan dan keberkahan mencari ilmu. Dan Gak akan mungkin juga aku mengerti bahwa di setiap keberhasilan yang aku raih, itu adalah doa dari para guruku. Bagiku tidak akan ada guru yang terbaikan dengan teknologi, karena manusia hanya akan cerdas bila diajarkan oleh manusia. 

Nah, mau tahu lebih banyak tentang cerita seruku bersama guru-guruku?
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Yuk pesan buku “Anak Muda Hebat Indonesia: Be the boss in your own life” 
di 0813 9620 0313 (Bu Ila)⠀⠀⠀⠀⠀
Aku tunggu ya!  

Close Menu