Resume ComDev Lounge “Urban Farming untuk Ketahanan Pangan”

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter

Bismillahirrahmanirrahim

Resume ComDev Lounge “Urban Farming untuk Ketahanan Pangan”

🎙️: Glenn Pardede (Managing Director East West Seed Indonesia)
🎙️: Sigit Kusuma Wijaya
(Arsitek, Urban Farming Desainer, Indonesia Berkebun)

==============
Urban Farming, atau yang kita kenal sebagai pertanian urban, adalah praktik budidaya, pemrosesan, dan distribusi bahan pangan di atau sekitar kota. Pertanian urban juga bisa melibatkan peternakan, budidaya perairan, wanatani, dan hortikultura.

Urban Farming di masa pandemi menjadi hal yang menarik untuk dilakukan masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan.

Pertanian dengan konsep urban farming, dapat dilakukan pada lahan minim dan sempit. Kelebihan ini membuat potensi urban farming melejit sekali akhir-akhir ini.

Bang Glenn mengungkapkan beberapa potensi Urban Farming di kala Pandemi:

  1. Hasil pangan dapat menjadi konsumsi sehat keluarga
  2. Aktifitas positif di kala stay at home
  3. Ketahanan pangan keluarga
  4. Pemanfaatan lahan tidak terpakai
  5. Menciptakan lapangan pekerjaan baru

Ya. Menciptakan lapangan pekerjaan baru ini dapat kita lihat dari Thailand dan Filipina (berdasarkan kisah dari East West Seed Thailand dan Filipina). Sebagian orang yang kurang beruntung dalam pekerjaan, kemudian menjajal kembali lahan pertanian.

Pada dasarnya semua manusia diciptakan dengan skill dasar bercocok tanam. Namun seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi. Lahan tanah semakinmenywmpit, interaksi manusia terutama generasi saat ini dengan tanah pun semakin jarang, sehingga wajar jika anak masa kini merasa sangat asing dengan pertanian.

Pertanian di Indonesia seolah menjadi hal yang hina. Para petani tak mau anak-anak nya kembali menjadi petani seperti mereka. Padahal jika kita melihat di negara maju, para petani disana kaya raya, memiliki teknologi terbaik dan kekayaan berlimpah.

Kalau kita memperhatikan harga pangan saat ini, kita akan melihat adanya grafik yang terus menanjak. Harga padi, gandum, apalagi sayur mayur. Di masa pandemi orang-orang sibuk mencari sayur karena mengetahui betapa banyaknya manfaat di dalamnya. Sayuran menjadi tinggi harganya dan terus diminta produksinya. Bibit-Bibit sayuran di EWINDO itu habis. Sekarang kejar produksi lagi.

Melihat peristiwa tersebut, dapat kita tarik beberapa point mengenai
Peluang Bisnis Urban Farming:

1. Makanan kemasan, paket diet sayuran
Alhamdulillah SAP sudah menjajal peluang ini melalui masakan sayur mayur dari kebun SAP, seperti botok daun singkong, buntil, sayur daun kelor, dll.

2. Agrowisata; pengalaman sayuran langsung petik
Untuk peluang ini berupa kesempatan melalui Green Therapy, karena tanaman adalah soul food. Melihat tanaman itu sangat pas sekali untuk dijadikan makanan jiwa agar tidak stres.

3. Penghijauan Lingkungan Kerja
Tentu kita mengharapkan para pekerja tetap sehat dan produktif. Lingkungan Kerja selayaknya adalah tempat yang hijau dan asri, sehingga para pekerja mendapatkan asupan oksigen yang baik untuk aktivitas otaknya. Demikian halnya dengan lingkungan belajar untuk ananda 😊

4. Konsumsi pribadi untuk penghematan dan peningkatan nilai gizi
Sangat menghemat sekali jika setiap memasak semua bahan dan bumbu tersedia di lahan kita sendiri?
Alhamdulillah sistem farm to table ini pun telah dilakukan di SAP. Sebisa mungkin setiap hasil kebun dapat dinikmati oleh keluarga besar SAP, mulai dari ananda hingga para fasilitator dab pelanggan kantin Spathodea.

5. Pot; Bibit semaian; Tanaman yang sudah berbuah
Menjadi item yang dapat membuka peluang bisnis Urban Farming. Tentunya ada jenis-jenis tanaman tertentu yang perlu penanganan khusus oleh ahlinya, nah, inilah yang dapat kita ambil jalan peluangnya. Fokuskan pada tanaman tertentu lalu coba pasarkan!

6. Paket Pelatihan Edukasi Berbayar
Dapat berupa pengalaman belajar langsung di tempat, maupun program channel youtube berbayar. Semua menjadi hal yang mungkin di masa kini.

Implementasi Urban Farming

1. Microgreens
Penyemaian bibit yang kemudian dipanen setelah 10 hari.

2. Rooftop
Manfaatkan lahan atapmu. Cukup letakkan bak dan tanah 20 cm sudah bisa menanam sayuran berdaun

3. Pekarangan
Gunakan semaksimal mungkin lahan yang tersedia. Bisa juga lahan terlantar, tentu akan lebih baik jika ada izin dari pemilik terlebih dahulu ya..

4. Gang Sempit
Bahkan jika hanya gang sempit juga tetap bisa diisi dengan tanaman. Dengan sistem tumpuk ke atas menggunakan berbagai macam benda sebagai wadah media tanam.

Inspirasi Pemecut Semangat

  1. Kisah pegawai swasta yang mengubah lahan tak terpakai menjadi lahan cabai dewata. Beliau menjual hasil panen cabai dewata (yang memiliki cita rasa sangat pedas) dengan harga 15k/200gr. Di masukkan dalam kemasan yang rapih, di beri label ‘Cabai Bawel’.
  2. Pebisnis dari Padang, mengolah hasil panen kangkung nya menjadi rendang kangkung. Di jual dalam kemasan seharga 20k/100gr
  3. Kisah sukses ibu Eni Setyorini, yang berhasil membina kampungnya menjadi masyarakat gemar bercocok tanam, dan desa ini di Purwakarta. Beliau sendiri adalah praktisi Urban Farming yang telah diliput oleh salah satu stasiun tv Indonesia.

Bagaimana?
Semakin tertarik dengan Urban Farming bukan? 🤗
Yuk beli bibit nya di @cappanahmerah , bang Glenn juga mengingatkan bahwa menanam itu haruslah dari bibit terbaik, agar hasil yang di dapatkan pun terbaik 🤗

Selamat mencoba di rumah! Bagikan Urban Farming ala keluarga ayah bunda dengan mention akun instagram @sekolahalampurwakarta 🤗🌹

Yuk, kita hidupkan dapur dari pekarangan kita!

resume by An
Divisi Humas Sekolah Alam Purwakarta

Close Menu