Resume Kitab talim mutaalim fii thariqi atta’alum

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter

Disusun oleh Ust Galih Kurniawan, Sekolah Alam Purwakarta

Resume Kitab Talim Mutaalim fii Thariqi Atta’alum

Kitab Talim Mutaalim fii thariqi Atta’alum ditulis oleh Syaikh Az-Zarnuzi. Beliau hidup pada masa abad ke-13. Terdapat perbedaan pendapat tentang tanggal dan tempat beliau dilahirkan.

Kitab Talim Mutaalim merupakan kitab yang mahsyur di kalangan pesantren Indonesia. Kitab ini sering menjadi kitab dasar dan awal bagi santri yang hendak mengarungi samudera keilmuan.

Kitab Talim Mutaalim merupakan kitab “tata cara” menuntut ilmu. Hal ini sejurus dengan nama kitab ini yakni “Belajar bagaimana penuntut ilmu menuntut ilmu”. Begitu kira-kira terjemah bebas dari nama kitab ini.

Kitab ini hadir atas keresahan penulis melihat fenomena di zamannya saat penuntut ilmu kurang memperhatikan adab mereka. Penuntut ilmu terlihat sudah tekun belajar akan tetapi tidak nampak hasil yang signifikan. Syaikh Az-Zarnuzi berpendapat bahwa faktor kegagalan menuntut ilmu karena lalai dalam beradab.

Kitab Talim Mutaalim terdiri dari 13 bab. Dimulai dari hal-hal umum hingga diakhiri dengan hal-hal yang lebih terperinci.

Adakalanya penulis menjelaskan dengan gamblang, namun tidak jarang penulis menyisipkan syair-syair yang berkaitan dengan tema yang dibahas.

Penulis kitab ini mengemukakan bahwa adab utama penuntut ilmu ialah mengikhlaskan niat hanya kepada Allah SWT. Niat yang bengkok akan membawa penuntut ilmu pada kesalahpahaman dan kegagalan.

Niat seperti anak panah yang diarahkan pada targetnya. Apabila targetnya tepat maka anak panah akan meluncur tepat. Sebaliknya apabila targetnya salah maka anak panah akan meluncur salah.

Di samping berniat karena Allah SWT, penuntut ilmu perlu berniat menghilangkan kebodohan, menghidupkan agama, dan menggapai kebahagiaan akhirat.

Kitab ini mahsyur karena memiliki banyak keutamaan, apabila dipahami dan dipraktekkan oleh penuntut ilmu. Bagaimana penuntut ilmu beradab kepada Tuhannya, Rasulnya, kepada gurunya, temannya, kitabnya, dirinya sendiri, dan berbagai adab yang lain.

Alangkah beruntung penuntut ilmu yang membaca kitab ini, karena ia belajar bagaimana caranya belajar. Tentu saja hasilnya akan berbeda dengan seseorang yang menuntut ilmu tanpa ilmu tata cara belajar.

Wallahualam

Close Menu